Sell America! Sell America, Menggema!: Dolar Ambruk Terburuk 5 Bulan
0 0
Read Time:2 Minute, 29 Second

Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan tajam yang memicu aksi jual masif oleh investor global, fenomena yang kini ramai disebut sebagai strategi “Sell America.” Imbasnya, indeks dolar AS (DXY) turun secara signifikan — pencapaian penurunan terburuk dalam hampir lima bulan terakhir — menandakan makin melemahnya mata uang greenback di tengah ketidakpastian pasar global.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama seperti euro, yen, poundsterling, franc Swiss, dolar Kanada, dan krona Swedia, anjlok sekitar 0,7% pada satu sesi perdagangan, level penurunan terbesar sejak Agustus 2025. Pelemahan ini sebagian besar didorong oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi AS dan ketidakpastian kebijakan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Situasi pasar saat ini mencerminkan kekhawatiran luas yang dialami pelaku keuangan global. Aksi sell-off atau penjualan besar-besaran tidak hanya terjadi pada dolar, tetapi juga menjalar ke saham dan obligasi AS, menunjukkan kerentanan pasar terhadap sentimen negatif. Aset safe-haven seperti emas dan perak justru menguat, karena investor mencari perlindungan dari volatilitas yang meningkat.

Fenomena Sell America sendiri merujuk pada kondisi di mana investor melepas aset berdenominasi dolar dan pasar modal AS secara luas, termasuk saham, obligasi pemerintah (Treasury), dan aset lain yang biasanya dianggap aman. Hal ini mencerminkan kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi AS serta ketidakpastian hubungan dagang dengan mitra global.

Katalis utama dari sell-off kali ini adalah kekhawatiran akan ketegangan geopolitik dan kebijakan proteksionis yang dapat memperburuk hubungan ekonomi AS dengan negara-negara lain, terutama di Eropa. Tekanan tambahan datang dari sinyal bahwa imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, yang seringkali menekan harga obligasi dan memberikan dampak negatif pada dolar.

Selain itu, pergerakan mata uang Eropa seperti euro yang menguat terhadap dolar memperkuat tekanan terhadap greenback. Pada titik tertentu, euro naik lebih dari 1% terhadap dolar AS, menunjukkan bahwa mata uang kawasan single currency tersebut menjadi pilihan alternatif bagi investor yang mencari stabilitas.

Penurunan dolar semacam ini memberikan dampak luas, yang tidak hanya dirasakan di pasar global tetapi juga pada perekonomian domestik negara lain. Misalnya, mata uang beberapa negara berkembang bisa menguat terhadap dolar, sementara harga komoditas internasional dan biaya impor/ekspor dapat mengalami fluktuasi signifikan seiring perubahan nilai tukar.

Dari sisi investor, ada dua pandangan: beberapa melihat keterpurukan dolar sebagai peluang untuk diversifikasi portofolio, baik melalui eksposur ke mata uang alternatif maupun aset safe-haven seperti emas. Sementara yang lain memandang penurunan ini sebagai warning sign terhadap risiko yang lebih besar di pasar keuangan global jika ketidakpastian kebijakan terus meningkat.

Namun, kondisi ini juga mengundang pertanyaan besar tentang masa depan peran dolar sebagai mata uang cadangan global. Dalam jangka panjang, jika tren penjualan dolar berlanjut, beberapa analis memperkirakan bahwa posisi dominan greenback bisa mengalami tekanan struktural karena investor global mencari alternatif yang lebih stabil dan kurang dipengaruhi oleh dinamika politik AS.

Secara keseluruhan, gejolak terbaru di pasar keuangan dunia menunjukkan bahwa sentimen investor sangat sensitif terhadap kebijakan ekonomi dan geopolitik besar — dan ketika kekhawatiran itu memuncak, respons pasar seperti Sell America dapat memicu pergerakan tajam di pasar valuta asing dan aset keuangan lainnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %