Kelelawar Afrika Ditemukan di Eropa, Misteri Hampir 200 Tahun Akhirnya Terpecahkan
kelelawar Afrika di Eropa akhirnya berhasil dikonfirmasi setelah ilmuwan melakukan penelitian di Pulau Pantelleria, Italia. Spesies tersebut bernama Nycteris thebaica atau kelelawar celah wajah Mesir.
Penemuan ini menarik karena keberadaan spesies tersebut di kawasan Eropa telah menjadi teka-teki zoologi selama hampir dua abad. Namun, penelitian terbaru memberikan bukti kuat bahwa kelelawar itu memang hidup di wilayah Eropa.
Hasil penelitian diumumkan pada 18 Agustus 2026. Selain itu, penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Global Ecology and Conservation.
Kelelawar Afrika di Eropa Ditemukan di Pantelleria
Pantelleria merupakan pulau vulkanik yang berada di Selat Sisilia.
Lokasinya terletak di antara Tunisia dan Pulau Sisilia. Karena itu, posisi Pantelleria cukup menarik untuk mempelajari pergerakan satwa antara Afrika dan Eropa.
Tim peneliti melakukan survei khusus terhadap kelelawar di pulau tersebut.
Mereka tidak hanya mengandalkan pengamatan langsung. Sebaliknya, ilmuwan menggunakan perangkat yang dapat merekam suara kelelawar.
Hasilnya memberikan kejutan.
Suara yang terekam cocok dengan karakter Nycteris thebaica.
Ilmuwan Menggunakan Rekaman Suara
Kelelawar aktif pada malam hari.
Selain itu, banyak spesies terbang dengan cepat sehingga sulit diamati secara langsung.
Karena alasan tersebut, peneliti dapat menggunakan suara sebagai petunjuk.
Kelelawar menghasilkan suara berfrekuensi tinggi untuk mengetahui kondisi di sekitarnya. Sistem ini dikenal sebagai ekolokasi.
Alat khusus kemudian merekam suara tersebut.
Setelah itu, peneliti menganalisis pola rekamannya.
Dengan demikian, ilmuwan dapat mengetahui jenis kelelawar yang berada di suatu kawasan tanpa harus menangkap setiap individu.
Misterinya Sudah Berlangsung Hampir Dua Abad
Cerita mengenai kelelawar ini sebenarnya bukan hal baru.
Keberadaan Nycteris thebaica di Sisilia pernah menjadi bahan perdebatan ilmiah sejak abad ke-19.
Namun, bukti yang tersedia sebelumnya belum cukup kuat.
Akibatnya, keberadaan spesies tersebut di Eropa tetap menjadi pertanyaan.
Kini penelitian di Pantelleria memberikan bukti yang jauh lebih meyakinkan.
Penemuan tersebut akhirnya membantu menjawab misteri yang telah bertahan selama beberapa generasi peneliti.
Spesies Ini Umumnya Dikenal dari Afrika
Nycteris thebaica merupakan spesies kelelawar yang memiliki persebaran luas di Afrika.
Namun, keberadaannya di Eropa sebelumnya belum dapat dipastikan.
Karena itu, temuan Pantelleria mempunyai arti khusus.
Penelitian tersebut tidak hanya menambahkan satu spesies baru dalam daftar fauna Eropa. Temuan ini juga menjadi catatan pertama keluarga Nycteridae yang berhasil dikonfirmasi di kawasan Eropa.
Dengan demikian, penemuan tersebut mengubah catatan keanekaragaman kelelawar di benua itu.
Wajahnya Memiliki Bentuk Unik
Nama kelelawar celah wajah berasal dari bentuk bagian wajahnya.
Kelompok Nycteris mempunyai lekukan khas pada bagian muka.
Ciri tersebut membuat penampilannya berbeda dari banyak kelelawar Eropa.
Namun, bentuk tubuh bukan satu-satunya cara untuk mengenalinya.
Suara ekolokasi juga memberikan informasi penting bagi peneliti.
Karena itu, penelitian modern sering menggabungkan berbagai metode ketika mempelajari kelelawar.
Pantelleria Berada di Lokasi Strategis
Posisi geografis pulau tersebut menjadi bagian menarik dari cerita ini.
Pantelleria berada lebih dekat dengan Afrika Utara dibandingkan dengan banyak wilayah daratan Italia.
Pulau itu berada sekitar pertengahan jalur antara Tunisia dan Sisilia.
Oleh sebab itu, kawasan tersebut dapat menjadi tempat penting untuk mempelajari hubungan fauna antara dua benua.
Pertanyaan berikutnya pun muncul.
Apakah kelelawar tersebut sudah lama hidup di Pantelleria?
Atau apakah populasinya berasal dari pergerakan yang lebih baru?
Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menjawabnya.
Perubahan Iklim Menjadi Salah Satu Hal yang Perlu Dipelajari
Persebaran hewan dapat berubah dari waktu ke waktu.
Suhu merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi wilayah hidup suatu spesies.
Selain itu, ketersediaan makanan dan habitat juga mempunyai peran penting.
Namun, penemuan satu populasi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa perubahan iklim menjadi penyebab kedatangannya.
Karena itu, ilmuwan perlu mengumpulkan data tambahan.
Mereka harus mengetahui jumlah populasi, pola pergerakan, serta sejarah keberadaan spesies tersebut di kawasan Mediterania.
Laut Tidak Selalu Menjadi Penghalang
Kelelawar memiliki kemampuan terbang.
Namun, perjalanan melintasi laut tetap menjadi tantangan besar bagi banyak spesies.
Pantelleria berada di kawasan yang dapat menjadi titik penting dalam jalur antara Afrika Utara dan Eropa.
Akibatnya, keberadaan kelelawar Afrika di pulau tersebut membuka pertanyaan mengenai kemampuan penyebaran satwa melintasi wilayah Mediterania.
Penelitian genetika nantinya dapat memberikan petunjuk tambahan.
Ilmuwan dapat membandingkan populasi Pantelleria dengan kelelawar dari Afrika Utara.
Teknologi Suara Membantu Penemuan
Penemuan ini juga menunjukkan perkembangan penelitian satwa liar.
Pada masa lalu, ilmuwan lebih bergantung pada penangkapan dan pengamatan langsung.
Sekarang, perangkat perekam dapat bekerja sepanjang malam.
Alat tersebut mendengarkan suara yang tidak dapat didengar dengan jelas oleh telinga manusia.
Kemudian, data dipindahkan ke komputer.
Peneliti membandingkan pola suara dengan informasi dari spesies yang sudah dikenal.
Karena itu, satu malam di hutan dapat menghasilkan ribuan rekaman untuk dianalisis.
Penelitian Melibatkan Beberapa Lembaga
Temuan tersebut merupakan hasil kerja sama sejumlah lembaga penelitian.
Tim melibatkan peneliti dari Universitas Napoli Federico II, Museum für Naturkunde Berlin, Universitas Humboldt Berlin, serta Taman Nasional Pantelleria.
Kerja sama tersebut penting karena penelitian kelelawar membutuhkan berbagai keahlian.
Ada ahli ekologi.
Ada peneliti suara hewan.
Selain itu, pengelola kawasan konservasi juga mempunyai pengetahuan mengenai kondisi habitat setempat.
Penemuan Bisa Mengubah Daftar Fauna Eropa
Daftar spesies suatu wilayah tidak bersifat tetap.
Penelitian baru dapat menemukan spesies yang sebelumnya terlewat.
Selain itu, hewan juga dapat memperluas atau mengubah wilayah persebarannya.
Kasus Nycteris thebaica menjadi contoh menarik.
Selama hampir dua abad, laporan mengenai keberadaannya menimbulkan pertanyaan.
Sekarang, bukti modern memberikan dasar yang lebih kuat untuk memasukkan spesies tersebut dalam catatan fauna Eropa.
Masih Banyak Pertanyaan Belum Terjawab
Konfirmasi keberadaan kelelawar tersebut bukan akhir penelitian.
Justru, banyak pertanyaan baru muncul.
Berapa banyak individu yang hidup di Pantelleria?
Apakah mereka berkembang biak di pulau tersebut?
Dari mana asal populasinya?
Apakah ada populasi lain di Sisilia atau wilayah Mediterania?
Selain itu, peneliti perlu mengetahui habitat yang paling penting bagi kelangsungan hidup spesies tersebut.
Jawaban dari pertanyaan itu membutuhkan penelitian lebih panjang.
Pulau Kecil Membuka Temuan Besar
Pantelleria memang jauh lebih kecil dibandingkan daratan Eropa.
Namun, lokasi pulau tersebut membuatnya menarik secara biologis.
Hewan dari Afrika dan Eropa dapat bertemu dalam kawasan Mediterania.
Karena itu, penelitian di pulau kecil dapat memberikan informasi besar mengenai persebaran spesies.
Temuan kelelawar ini menjadi salah satu contohnya.
Misteri Zoologi Hampir 200 Tahun Terjawab
Konfirmasi kelelawar Afrika di Eropa menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai satwa di benua yang sudah lama diteliti pun belum sepenuhnya selesai.
Spesies Nycteris thebaica sebelumnya dikenal sebagai kelelawar Afrika. Namun, survei suara di Pantelleria akhirnya memberikan bukti kuat keberadaannya di wilayah Eropa.
Penemuan tersebut sekaligus menjadi catatan pertama keluarga Nycteridae di Eropa.
Akhirnya, misteri yang bertahan hampir dua abad mendapatkan jawaban. Namun, penelitian selanjutnya masih diperlukan untuk mengetahui bagaimana kelelawar Afrika tersebut mencapai Pantelleria dan seberapa besar populasinya saat ini.