Gelombang Panas Ekstrem Hantam Asia, Kentang di Korea Selatan Sampai “Matang” di Dalam Tanah
Gelombang panas Asia 2026 menghasilkan kondisi ekstrem di sejumlah negara Asia Timur. Korea Selatan, Jepang, China, Hong Kong hingga Korea Utara mengalami temperatur luar biasa tinggi yang berdampak langsung terhadap manusia, pertanian dan peternakan.
Salah satu fenomena paling mencolok terjadi di Korea Selatan. Temperatur ekstrem membuat tanaman kentang mengalami kerusakan parah di dalam tanah. Sejumlah petani menggambarkan kondisinya seolah-olah kentang tersebut “matang” sebelum sempat dipanen.
Korea Selatan Tembus 42,5°C
Korea Selatan mencatat temperatur hingga 42,5°C dalam gelombang panas tersebut. Selain kentang, tanaman seperti semangka turut mengalami kerusakan.
Sedikitnya 31 kematian dilaporkan terkait kondisi panas, sementara kerugian juga terjadi pada peternakan dan akuakultur.
Kentang Rusak di Dalam Tanah
Tanah biasanya memberikan perlindungan bagi umbi dari perubahan temperatur di permukaan. Namun, panas yang berkepanjangan dapat meningkatkan temperatur tanah dan mengganggu pertumbuhan tanaman.
Kondisi ekstrem kali ini membuat sejumlah kentang mengalami kerusakan sebelum dapat dipanen, memberikan tekanan ekonomi tambahan kepada petani.
Jepang Alami Hari dengan Suhu di Atas 40°C
Situasi serupa terjadi di Jepang. Negara tersebut mengalami apa yang disebut sebagai “kokushobi”, istilah untuk hari dengan temperatur melebihi 40°C.
Panas ekstrem membuat masyarakat menghadapi risiko heatstroke sekaligus meningkatkan tekanan terhadap sistem pertanian dan penggunaan energi untuk pendinginan.
Hong Kong Pecahkan Rekor
Hong Kong juga mencatat temperatur 36,9°C, yang dilaporkan sebagai suhu tertinggi dalam catatan wilayah tersebut.
Kondisi itu sekaligus memunculkan diskusi mengenai efektivitas sistem peringatan panas dan perlindungan terhadap masyarakat yang bekerja di luar ruangan.
China Bahkan Sentuh 50°C
Di Xinjiang, China, temperatur dilaporkan mencapai sekitar 50°C. Sementara itu, wilayah lain di Asia Timur juga mengalami malam yang sangat hangat sehingga tubuh dan lingkungan mendapatkan lebih sedikit kesempatan untuk melepaskan panas.
Asia Memanas Lebih Cepat
Para ilmuwan mengaitkan ekstremitas gelombang panas tersebut dengan kombinasi perubahan iklim dan kondisi El Niño. Organisasi Meteorologi Dunia juga mencatat laju pemanasan Asia telah meningkat tajam sejak 1991.
Gelombang panas Asia 2026 menunjukkan dampak temperatur ekstrem kini tidak sebatas membuat udara terasa tidak nyaman. Ketika kentang bahkan rusak di bawah tanah, dampaknya sudah menjalar langsung ke produksi pangan, pendapatan petani, peternakan dan ketahanan masyarakat terhadap cuaca ekstrem.