China Tetap Tangguh di Tahun Pertama Era Trump 2.0

Tahun pertama era Trump 2.0 ternyata bukan masa kemerosotan bagi China, meskipun hubungan antara Washington dan Beijing mengalami ketegangan yang signifikan. Selama setahun terakhir, China menunjukkan ketahanan ekonomi dan kemampuan strategisnya dalam menghadapi tekanan dagang dan kebijakan proteksionis yang diperkenalkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Data resmi terbaru menunjukkan bahwa ekonomi China tumbuh sekitar 5% sepanjang 2025, mencapai target yang ditetapkan oleh pemerintah Beijing meskipun di tengah tarif tinggi dan kebijakan perdagangan yang lebih agresif dari Amerika Serikat. Angka ini dipandang sebagai bukti bahwa Beijing mampu mempertahankan momentum ekonomi meskipun menghadapi arus geopolitik yang tidak bersahabat.
Salah satu indikator ketangguhan China adalah surplus perdagangan yang mencapai rekor hampir US$1,2 triliun pada tahun 2025. Surplus tersebut bahkan tercatat melebihi rekor sebelumnya dan didorong oleh lonjakan ekspor ke negara-negara selain Amerika Serikat, termasuk pasar di Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin. Ini menunjukkan bahwa China berhasil mengalihkan fokus ekspor dan memperluas pasar globalnya sebagai respons terhadap hambatan dagang dengan AS.
Kebijakan tarif timbal balik antara AS dan China pada tahun lalu sempat memuncak ketika kedua negara memberlakukan tarif tinggi terhadap produk masing-masing. Namun dinamika ini berangsur mereda setelah sejumlah putaran perundingan dan penyesuaian tarif yang menurunkan eskalasi ketegangan dagang. Menurut analis, China mampu menavigasi situasi ini dengan strategi yang pragmatis, yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekspor ke AS, tetapi juga memperkuat hubungan dagang global yang lebih luas.
Selain menguatnya surplus perdagangan, ketahanan perekonomian China juga diperkuat oleh strategi domestik yang fokus pada konsumsi dalam negeri dan diversifikasi ekonomi. Peningkatan hubungan dagang dan investasi dengan negara-negara ASEAN, Afrika, dan kawasan lainnya turut menjadi penyangga pertumbuhan, meskipun tekanan dari kebijakan AS tetap ada.
Sejumlah pakar menyatakan bahwa pengalaman China menghadapi tekanan perang dagang bukanlah hal baru. Pemerintah Beijing telah mempersiapkan instrumen ekonominya sejak beberapa tahun lalu untuk menghadapi skenario-skenario proteksionis seperti yang kini diterapkan oleh AS. Strategi seperti memperkuat rantai pasok domestik, mendorong inovasi teknologi, serta memperluas hubungan perdagangan global membuat China dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya.
Di sisi diplomasi, komunikasi tingkat tinggi antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Trump sepanjang tahun 2025 juga memainkan peran penting dalam meredakan sebagian ketegangan. Meski persaingan strategis tetap berlanjut, dialog membantu mencegah konflik yang lebih dalam dan memberi ruang bagi kedua negara untuk mengatur hubungan dagang secara lebih terukur.
Namun, ketangguhan ekonomi China di bawah Trump 2.0 tidak berarti tantangan telah hilang. Ekonomi China masih menghadapi berbagai tekanan internal seperti lemahnya konsumsi rumah tangga, perlambatan pasar properti, serta ketidakpastian pasar global yang terus berubah. Para analis juga mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi masih terseret oleh kondisi domestik yang kurang kuat, meskipun indikator perdagangan tetap kuat.
Secara keseluruhan, China berhasil menunjukkan diri sebagai kekuatan ekonomi yang tangguh di tengah kebijakan luar negeri yang penuh tantangan dan tekanan dagang. Keberhasilan mencapai target pertumbuhan, surplus perdagangan yang tinggi, serta diversifikasi pasar ekspor menjadi bukti bahwa China mampu beradaptasi dan mempertahankan momentum, bahkan ketika menghadapi kebijakan proteksionis dari mitra dagang terbesar dunia seperti Amerika Serikat di era Trump 2.0.