DNA Berusia Hampir 190 Tahun Ungkap Spesies Trenggiling “Tersembunyi” di Asia
Seekor trenggiling yang hidup di kawasan Himalaya ternyata menyimpan kejutan besar bagi dunia ilmu pengetahuan.
Penelitian terbaru memastikan bahwa populasi trenggiling di Nepal dan India utara merupakan garis evolusi tersendiri yang kini dikenali sebagai Manis aurita.
Yang membuat penemuan ini semakin menarik, salah satu kunci untuk memecahkan identitas hewan tersebut berasal dari DNA spesimen museum yang usianya hampir 190 tahun.
Spesimen Tua Menjadi Kunci Misteri
Museum bukan hanya tempat menyimpan hewan yang telah diawetkan.
Spesimen berusia ratusan tahun dapat berfungsi seperti kapsul waktu biologis.
Dengan teknologi genetika modern, ilmuwan dapat mengambil informasi DNA dari koleksi lama dan membandingkannya dengan hewan yang hidup sekarang.
Dalam penelitian ini, analisis DNA dan rekonstruksi hubungan evolusi membantu menunjukkan bahwa trenggiling Himalaya memiliki identitas yang berbeda.
Nama ilmiah yang digunakan adalah Manis aurita.
Selama Ini Seperti “Bersembunyi di Depan Mata”
Hal yang menarik adalah hewan tersebut bukan ditemukan di sebuah pulau terpencil yang belum pernah didatangi manusia.
Trenggiling ini telah hidup di kawasan Himalaya.
Namun kemiripan fisiknya dengan kerabat lain membuat identitas sebenarnya sulit dikenali hanya dengan melihat penampilan.
Penelitian genetika akhirnya membantu memperjelas hubungan antarspesies dan menunjukkan bahwa populasi Himalaya tersebut merupakan garis evolusi yang perlu dibedakan.
Trenggiling Memiliki “Baju Zirah” Alami
Trenggiling termasuk mamalia dengan penampilan paling unik di dunia.
Tubuhnya dilindungi lapisan sisik keras yang saling bertumpuk sehingga terlihat seperti baju zirah alami.
Ketika merasa terancam, trenggiling dapat menggulung tubuh sehingga bagian tubuh yang lebih lunak terlindungi.
Mereka juga mempunyai cakar kuat yang digunakan untuk menggali dan mencari makanan seperti semut serta rayap.
Penampilannya bahkan sering membuat trenggiling terlihat seperti hewan dari zaman prasejarah.
Namun di balik pertahanan tubuh yang luar biasa tersebut terdapat ancaman serius.
Salah Satu Mamalia yang Paling Banyak Diperdagangkan
Trenggiling menghadapi tekanan berat akibat perdagangan ilegal.
Sisik dan bagian tubuhnya menjadi sasaran perburuan, membuat berbagai spesies trenggiling menghadapi risiko konservasi serius.
Karena itu, mengetahui secara tepat spesies mana yang hidup di suatu wilayah sangat penting.
Identifikasi genetika dapat membantu peneliti dan aparat membedakan asal sampel trenggiling yang ditemukan dalam perdagangan ilegal.
Dalam jangka panjang, informasi tersebut berpotensi membantu menunjukkan spesies dan wilayah mana yang paling banyak menjadi sasaran perburuan.
DNA Bisa Menjadi “Sidik Jari” Perdagangan Ilegal
Bayangkan petugas menemukan sisik trenggiling dalam sebuah penyitaan.
Secara visual, menentukan spesies asalnya bisa sangat sulit.
Namun DNA dapat memberikan informasi yang jauh lebih spesifik.
Dengan database genetika yang semakin lengkap, sampel dapat dibandingkan dengan populasi dari berbagai wilayah.
Karena itu, penetapan Manis aurita bukan hanya persoalan memberikan nama baru dalam katalog zoologi.
Temuan tersebut dapat mempunyai manfaat nyata bagi perlindungan satwa.
Koleksi Museum Bisa Menyimpan Penemuan Masa Depan
Kasus ini sekaligus menunjukkan betapa berharganya koleksi sejarah alam.
Ketika spesimen dikumpulkan hampir dua abad lalu, para ilmuwan pada masa itu belum memiliki teknologi sequencing DNA modern.
Kini spesimen yang sama dapat memberikan informasi yang sebelumnya mustahil diperoleh.
Tidak tertutup kemungkinan masih ada berbagai spesies lain yang identitas sebenarnya tersembunyi di dalam lemari koleksi museum di seluruh dunia.
Mereka mungkin sudah ditemukan manusia puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu.
Namun kita belum sepenuhnya memahami apa sebenarnya yang sedang kita lihat.
Dalam kasus trenggiling Himalaya, DNA berusia hampir 190 tahun akhirnya membantu memberikan identitas yang lebih jelas kepada hewan yang telah lama hidup di pegunungan Asia.