China Tetap Tangguh di Tahun Pertama Era Trump 2.0
0 0
Read Time:2 Minute, 30 Second

Tahun pertama era Trump 2.0 ternyata bukan masa kemerosotan bagi China, meskipun hubungan antara Washington dan Beijing mengalami ketegangan yang signifikan. Selama setahun terakhir, China menunjukkan ketahanan ekonomi dan kemampuan strategisnya dalam menghadapi tekanan dagang dan kebijakan proteksionis yang diperkenalkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.

Data resmi terbaru menunjukkan bahwa ekonomi China tumbuh sekitar 5% sepanjang 2025, mencapai target yang ditetapkan oleh pemerintah Beijing meskipun di tengah tarif tinggi dan kebijakan perdagangan yang lebih agresif dari Amerika Serikat. Angka ini dipandang sebagai bukti bahwa Beijing mampu mempertahankan momentum ekonomi meskipun menghadapi arus geopolitik yang tidak bersahabat.

Salah satu indikator ketangguhan China adalah surplus perdagangan yang mencapai rekor hampir US$1,2 triliun pada tahun 2025. Surplus tersebut bahkan tercatat melebihi rekor sebelumnya dan didorong oleh lonjakan ekspor ke negara-negara selain Amerika Serikat, termasuk pasar di Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin. Ini menunjukkan bahwa China berhasil mengalihkan fokus ekspor dan memperluas pasar globalnya sebagai respons terhadap hambatan dagang dengan AS.

Kebijakan tarif timbal balik antara AS dan China pada tahun lalu sempat memuncak ketika kedua negara memberlakukan tarif tinggi terhadap produk masing-masing. Namun dinamika ini berangsur mereda setelah sejumlah putaran perundingan dan penyesuaian tarif yang menurunkan eskalasi ketegangan dagang. Menurut analis, China mampu menavigasi situasi ini dengan strategi yang pragmatis, yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekspor ke AS, tetapi juga memperkuat hubungan dagang global yang lebih luas.

Selain menguatnya surplus perdagangan, ketahanan perekonomian China juga diperkuat oleh strategi domestik yang fokus pada konsumsi dalam negeri dan diversifikasi ekonomi. Peningkatan hubungan dagang dan investasi dengan negara-negara ASEAN, Afrika, dan kawasan lainnya turut menjadi penyangga pertumbuhan, meskipun tekanan dari kebijakan AS tetap ada.

Sejumlah pakar menyatakan bahwa pengalaman China menghadapi tekanan perang dagang bukanlah hal baru. Pemerintah Beijing telah mempersiapkan instrumen ekonominya sejak beberapa tahun lalu untuk menghadapi skenario-skenario proteksionis seperti yang kini diterapkan oleh AS. Strategi seperti memperkuat rantai pasok domestik, mendorong inovasi teknologi, serta memperluas hubungan perdagangan global membuat China dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya.

Di sisi diplomasi, komunikasi tingkat tinggi antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Trump sepanjang tahun 2025 juga memainkan peran penting dalam meredakan sebagian ketegangan. Meski persaingan strategis tetap berlanjut, dialog membantu mencegah konflik yang lebih dalam dan memberi ruang bagi kedua negara untuk mengatur hubungan dagang secara lebih terukur.

Namun, ketangguhan ekonomi China di bawah Trump 2.0 tidak berarti tantangan telah hilang. Ekonomi China masih menghadapi berbagai tekanan internal seperti lemahnya konsumsi rumah tangga, perlambatan pasar properti, serta ketidakpastian pasar global yang terus berubah. Para analis juga mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi masih terseret oleh kondisi domestik yang kurang kuat, meskipun indikator perdagangan tetap kuat.

Secara keseluruhan, China berhasil menunjukkan diri sebagai kekuatan ekonomi yang tangguh di tengah kebijakan luar negeri yang penuh tantangan dan tekanan dagang. Keberhasilan mencapai target pertumbuhan, surplus perdagangan yang tinggi, serta diversifikasi pasar ekspor menjadi bukti bahwa China mampu beradaptasi dan mempertahankan momentum, bahkan ketika menghadapi kebijakan proteksionis dari mitra dagang terbesar dunia seperti Amerika Serikat di era Trump 2.0.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Dorongan Pajak Daging Menguat di Eropa, Konsumsi Tinggi Karbon Dinilai Ancam Iklim
0 0
Read Time:2 Minute, 39 Second

Perdebatan soal pengenaan pajak atas konsumsi daging kembali menguat di Eropa sebagai salah satu cara untuk menekan emisi gas rumah kaca (greenhouse gas), yang sebagian besar berasal dari sektor pertanian dan peternakan. Para ilmuwan, pembuat kebijakan, dan kelompok advokasi lingkungan kini mendorong penggunaan instrumen fiskal, termasuk pajak atau penyesuaian tarif pajak, untuk mengurangi dampak iklim dari konsumsi makanan intensif karbon. Langkah ini dinilai penting di tengah meningkatnya kekhawatiran atas perubahan iklim global.

Salah satu rekomendasi yang mencuat adalah penyesuaian Tarif Pajak Pertambahan Nilai (VAT) pada produk daging dan produk hewani lain. Studi terbaru menunjukkan bahwa jika daging dikenakan tarif VAT penuh seperti makanan lain, dampak lingkungan yang disebabkan oleh konsumsi daging di Uni Eropa dapat berkurang antara 3,5% hingga 5,7%, tergantung pada kategori dampak yang dihitung. Ini karena harga daging akan mencerminkan biaya eksternal seperti emisi karbon dan polusi lainnya. Pendapatan pajak tambahan yang dihasilkan juga memiliki potensi untuk digunakan sebagai kompensasi sosial atau untuk mendanai inisiatif lingkungan lainnya.

Saat ini, 22 dari 27 negara UE menerapkan tarif pajak yang lebih rendah pada daging dibandingkan makanan lain, meskipun konsumsi produk hewani menyumbang proporsi signifikan terhadap jejak lingkungan makanan secara keseluruhan. Dengan konsumsi daging yang relatif tinggi di negara-negara Eropa, mencakup kelompok makanan yang menghasilkan emisi besar seperti daging sapi dan domba, perubahan tarif ini dapat mengubah perilaku konsumen sekaligus berdampak pada lingkungan.

Dampak lingkungan dari konsumsi daging tidak hanya berkaitan dengan karbon dioksida (CO₂), tetapi juga metana dan nitrous oxide, dua gas rumah kaca yang jauh lebih kuat daripada CO₂ dalam jangka pendek. Produksi daging, terutama dari ternak besar seperti sapi, juga berkaitan dengan penggunaan lahan yang luas, deforestasi, dan polusi air dari limbah peternakan yang tinggi. Ini membuat sektor makanan menjadi tantangan besar dalam mencapai target iklim Eropa yang ambisius.

Selain aspek lingkungan, kebijakan pajak pajak daging kerap dikaitkan dengan tujuan kesehatan masyarakat. Peneliti mengamati bahwa konsumsi daging yang berlebihan memiliki korelasi dengan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan kanker tertentu. Oleh karena itu, pajak yang dirancang dengan cermat tidak hanya memberi insentif untuk mengurangi konsumsi daging intensif karbon, tetapi juga mendorong pola makan yang lebih sehat.

Namun, usulan pajak daging ini bukan tanpa tantangan. Kekhawatiran utama yang sering muncul adalah bahwa peningkatan pajak bisa memberatkan rumah tangga berpenghasilan rendah, karena daging adalah bagian penting dari pola makan banyak keluarga. Untuk itu, para peneliti dan pembuat kebijakan menekankan pentingnya desain kebijakan yang adil, termasuk kemungkinan pendistribusian kembali pendapatan pajak untuk mendukung makanan sehat dan terjangkau, atau subsidi pada buah dan sayuran yang berdampak rendah terhadap lingkungan.

Model pajak yang diusulkan beberapa kelompok bahkan telah mempertimbangkan pengenaan tarif minimum di seluruh Uni Eropa berdasarkan jejak lingkungan nyata dari setiap jenis daging, dengan tujuan mengurangi konsumsi daging sapi secara drastis sambil tetap melindungi kesejahteraan peternak dan keamanan pangan. Pendukung kebijakan ini berargumen bahwa tanpa mencerminkan biaya lingkungan sejati dalam harga makanan, pasar akan terus gagal mengalokasikan sumber daya secara efisien sesuai dengan tujuan iklim.

Dorongan pajak daging di Eropa mencerminkan pergeseran kebijakan publik global: tidak hanya mengatur produksi industri besar seperti energi dan transportasi, tetapi juga mengubah perilaku konsumen melalui instrumen fiskal untuk mendukung transisi menuju sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan ramah iklim di masa depan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Sell America! Sell America, Menggema!: Dolar Ambruk Terburuk 5 Bulan
0 0
Read Time:2 Minute, 29 Second

Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan tajam yang memicu aksi jual masif oleh investor global, fenomena yang kini ramai disebut sebagai strategi “Sell America.” Imbasnya, indeks dolar AS (DXY) turun secara signifikan — pencapaian penurunan terburuk dalam hampir lima bulan terakhir — menandakan makin melemahnya mata uang greenback di tengah ketidakpastian pasar global.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama seperti euro, yen, poundsterling, franc Swiss, dolar Kanada, dan krona Swedia, anjlok sekitar 0,7% pada satu sesi perdagangan, level penurunan terbesar sejak Agustus 2025. Pelemahan ini sebagian besar didorong oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi AS dan ketidakpastian kebijakan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Situasi pasar saat ini mencerminkan kekhawatiran luas yang dialami pelaku keuangan global. Aksi sell-off atau penjualan besar-besaran tidak hanya terjadi pada dolar, tetapi juga menjalar ke saham dan obligasi AS, menunjukkan kerentanan pasar terhadap sentimen negatif. Aset safe-haven seperti emas dan perak justru menguat, karena investor mencari perlindungan dari volatilitas yang meningkat.

Fenomena Sell America sendiri merujuk pada kondisi di mana investor melepas aset berdenominasi dolar dan pasar modal AS secara luas, termasuk saham, obligasi pemerintah (Treasury), dan aset lain yang biasanya dianggap aman. Hal ini mencerminkan kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi AS serta ketidakpastian hubungan dagang dengan mitra global.

Katalis utama dari sell-off kali ini adalah kekhawatiran akan ketegangan geopolitik dan kebijakan proteksionis yang dapat memperburuk hubungan ekonomi AS dengan negara-negara lain, terutama di Eropa. Tekanan tambahan datang dari sinyal bahwa imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, yang seringkali menekan harga obligasi dan memberikan dampak negatif pada dolar.

Selain itu, pergerakan mata uang Eropa seperti euro yang menguat terhadap dolar memperkuat tekanan terhadap greenback. Pada titik tertentu, euro naik lebih dari 1% terhadap dolar AS, menunjukkan bahwa mata uang kawasan single currency tersebut menjadi pilihan alternatif bagi investor yang mencari stabilitas.

Penurunan dolar semacam ini memberikan dampak luas, yang tidak hanya dirasakan di pasar global tetapi juga pada perekonomian domestik negara lain. Misalnya, mata uang beberapa negara berkembang bisa menguat terhadap dolar, sementara harga komoditas internasional dan biaya impor/ekspor dapat mengalami fluktuasi signifikan seiring perubahan nilai tukar.

Dari sisi investor, ada dua pandangan: beberapa melihat keterpurukan dolar sebagai peluang untuk diversifikasi portofolio, baik melalui eksposur ke mata uang alternatif maupun aset safe-haven seperti emas. Sementara yang lain memandang penurunan ini sebagai warning sign terhadap risiko yang lebih besar di pasar keuangan global jika ketidakpastian kebijakan terus meningkat.

Namun, kondisi ini juga mengundang pertanyaan besar tentang masa depan peran dolar sebagai mata uang cadangan global. Dalam jangka panjang, jika tren penjualan dolar berlanjut, beberapa analis memperkirakan bahwa posisi dominan greenback bisa mengalami tekanan struktural karena investor global mencari alternatif yang lebih stabil dan kurang dipengaruhi oleh dinamika politik AS.

Secara keseluruhan, gejolak terbaru di pasar keuangan dunia menunjukkan bahwa sentimen investor sangat sensitif terhadap kebijakan ekonomi dan geopolitik besar — dan ketika kekhawatiran itu memuncak, respons pasar seperti Sell America dapat memicu pergerakan tajam di pasar valuta asing dan aset keuangan lainnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %